Suku Betawi
Bantahan Saya terhadap asal Suku Betawi


. Suku Betawi
Главное меню
Bagaiman mungkin Suku Betawi baru terbentuk tahun menurut(Antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA memperkirakan, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Castle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. ] Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.) sedangkan menurut sejarah(Asal usul kaum Betawi di Jaman dulu pada abad tua, sebelum adanya Kerajaan Galuh dan Padjajaran, yakni Kerajaan di Jaman Hindu. Berikut diterangkan asal muasal sejarah awal kaum/suku betawi sebelum jaman Pangeran Jayakarta atau tepatnya jauh sebelum jaman islam masuk pulau jawa. Dengan Tokoh bernama Aki Tirem yang berasal dari ayahnya kerabat Medang (mataram Kuno) dan Ibunya dari percampuran Kutai dan Jawa timur (Kanjuruhan). Aki Tirem hidup dan membuat priuk di wilayah Jakarta ini. Aki Tire mini diijinkan tinggal dan membabat alas (yang sekarang menjadi Jakarta ini, karena berhasil menundukan sapuregel – bangsa ghaib). Setelah cukup lanjut usia, kadang kala keluarga Aki Tire mini diserang dan dirampok oleh bajak laut. Karena cukup kewalahan sendiri melawan bajak laut yang banyak dan datang selalu tiba – tiba, demi untuk melindungi keluarga dan anak – anaknya, maka suatu ketika diputuskan untuk mencari bantuan dari seseorang. Saat itulah Dewawarman seorang berilmu (yang kelak menjadi menantunya berawal diminta bantuan). Dewawarman adalah Duta, Pedagang sekaligus perantau dari Pallawa, Bharata, India. Ketika Dewawarman tiba sudah ada penguasa setempat bernama Aki Tirem atau Aki Luhur Mulya. Dewawarman kemudian menikah dengan Putri Aki Luhur Mulya bernama Dewi Pwahaci Larasati. Dewawarman meneruskan kekuasaan setelah Aki Luhur Mulya Wafat. Lalu berdirilah Kerajaan pertama yang akhirnya setelah berpindah, sekarang menjadi bagian Jakarta ini yang namanya Salakanagara Rajatapura. Salakanagara Nagara berasal dari bahasa Kawi : Salaka yang artinya perak dan nagara yang berarti Kerajaan / Pemerintahan. Ia menjadi Raja pertama dengan Gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapura Sagara. Raja – raja yang memerintah dikenal bergelar sebagai Dewawarman. Dari Dewawarman I hingga Dewawarman VIII. Salakanagara menjadi cikal bakal berdirinya Tarumanegara atau Kerajaan Taruma. Raja Dewawarman I berkuasa selama 38 tahun dan digantikan anak sulungnya yang menjadi Dewawarman II dengan Gelar Prabu Digwijayakasa Dewawarman Putra. Secara berurutan inilah nama – nama Raja yang memerintah di salakanagara. Dewawarman I bergelar Prabu Darmalokapala Aji Raksa Gapura Sagara. Dewawarman II bergelar Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra (Putra Sulung Dewawarman I) Dewawarman III bergelar Prabu Singasagara Bimayasawirya (Putra Dewawarman I ) Dewawarman IV (menantu dari Dewawarman II ) Dewawarman V (Menantu dari Dewawarman IV ) Mahisassuramardini warmandewi (Putri tertua Dewawarman IV, isteri dari Dewawarman V yang lebih dahulu wafat) Dewawarman VI bergelar sang Moteng Samudra (putra Sulung Dewawarman V ) Dewawarman VII bergelar Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati (Putra Sulung Dewawarman VI ). Sphatikarnawa Warmandewi Putri Sulung Dewawarman VII ) Dewawarman VIII bergelar Prabu Darmawirya Dewawarman (Cucu Dewawarman VI yang menikah dengan Sphatikarnawa Warmandewi Dewawarman IX Menjadi Raja namun kekuasaannya di bawah Tarumanegaraletak Salakanagara pertama kali ada di daerah Teluk Lada Pandeglang, lalu sempat pindah beberapa kali sampai berakhir ke Daerah Condet – Pasar Minggu dan Kekuasaannya mulai dari daerah Depok, Jakarta sampai Pandeglang Banten. Dan secara retorika di Condet salak tumbuh subur dan banyak sekali nama – nama tempat yang bermakna Sejarah, seperti Bale Kambang dan Batu Ampar. Balekambang adalah pasangrahan Raja dan Batu Ampar adalah Batu besar tempat sesaji diletakan. Di Condet juga terdapat Makam Kuno yang disebut Penduduk Kramat Growak dan Makam Ki Balung Tunggal, adalah tokoh dari jaman Kerajaan pelanjut Salakanagara yaitu Kerajaan Kalapa. Tokoh ini adalah pemimpin pasukan yang tetap melakukan peperangan walaupun tulangnya tinggal sepotong (dipenglihatan Musuh) maka lantaran dijuluki Ki Balung Tunggal. Setelah Kerajaan salakanagara, muncul Tarumanegara, lalu Kerajaan Kalapa, Galuh, Padjajaran, dsb… Berarti peradaban kaum disekitar Jakarta yang kita kenal denga orang Betawi itu cukup tua dan mengawali sebelum Kerajaan Galuh dan Padjajaran. Lalu terjadi perubahan kultur di Kaum Betawi, yakni Asimilasi dari para Negara pendatang seperti : Portugis, China, Arab, juga menjadi peng-Adopsian kultur pada era perjuangan menjelang Kemerdekaan. Baik dari seni pakaian, Lagu, Musik, Tarian, alat Musik dsb. Tetapi banyak sekali Suku Betawi yang tidak tau jaman Betawi Kuno, Umumnya kaum Betawi hanya mengenal dan mengenang kultur perjuangan Betawi sendiri di era : Pitung, Nyai dasima, dsb. Rumah Bugis di bagian utara Jl. Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota. Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moor, orang Jawa dan Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu.
Bantahan Menurut Penyebaran agama islam
berdasarkan teori yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad 7 M, maka teori ku menyatakan : Betawi itu berasal dari bahasa Arab,, yaitu berasal dari kata al- Batawiyu (البتاوى ),, berarti “Kampung Bata”, setelah ku telusuri, Bata berarti dari Batu Tanah, setelah ku identifikasi, Batu Tanah dapat berarti : 1) Batu dan Tanah, 2) Batu dari Tanah, C. Pembahasan uji teori : beberapa tahun yang lalu,, ku mengarungi sungai Ciliwung, dan sempat singgah di tepiannya untuk melepas lelah, beberapa saat kemudian ku tertegun melihat tanah yang ku pijak, keras namun rapuh, ku pikir ini tanah liat yang mengeras, dan ternyata itulah jawaban dari pertanyaan yang ku cari, ternyata Bata itu adalah lempengan tanah yang mengeras di pinggiran sungai Ciliwung, D. Kesimpulan : 1. Betawi bukan suku, melainkan nama sebuah tempat di sepanjang aliran Sungai Ciliwung 2. Betawi bukan berasal dari Batavia (Belanda) melainkan dari Al-Batawiyu (البتاوى ) (arabic) 3. Betawi berarti “Kampung Bata”, yaitu Batu Tanah 3. Betawi berarti Tanah yang mengeras seperti Batu 4. Betawi merupakan daerah Kerajaan Sunda
Versi penyebaran Islam
Sejarawan keturunan Jerman, Adolf Heuken SJ, dalam buku Masjid-masjid Tua di Jakarta, menulis tiada masjid di Jakarta sekarang ini yang diketahui sebelum 1640-an. Dia menyebutkan Masjid Al-Anshor di Jl Pengukiran II, Glodok, Jakarta Kota, sebagai masjid tertua yang sampai kini masih berdiri. Masjid ini dibangun oleh orang Moor — artinya pedagang Islam dari Koja (India). Sejarah juga mencatat pada Mei 1619, ketika VOC menghancurkan Keraton Jayakarta, termasuk sebuah masjid di kawasannya. Letak masjid ini beberapa puluh meter di selatan Hotel Omni Batavia, di antara Jl Kali Besar Barat dan Jl Roa Malaka Utara, Jakarta Kota. Untuk mengetahui sejak kapan penyebaran Islam di Jakarta, menurut budayawan dan politisi Betawi, Ridwan Saidi,bisa dirunut dari berdirinya Pesantren Quro di Karawang pada tahun 1418. Syekh Quro, atau Syekh Hasanuddin, berasal dari Kamboja. Mula-mula maksud kedatangannya ke Jawa untuk berdakwah di Jawa Timur, namun ketika singgah di pelabuhan Karawang, Syekh urung meneruskan perjalanannya ke timur. Ia menikah dengan seorang gadis Karawang,dan membangun pesantren di Quro. Makam Syekh Quro di Karawang sampai kini masih banyak diziarahi orang. Di kemudian hari, seorang santri pesantren itu, yakni Nyai Subang Larang, dipersunting Prabu Siliwangi. Dari perkawinan ini lahirlah Kean Santang yang kelak menjadi penyebar Islam. Banyak warga Betawi yang menjadi pengikutnya. Menurut Ridwan Saidi, di kalangan penganut agama lokal, mereka yang beragama Islam disebut sebagai kaum langgara, sebagai orang yang melanggar adat istiadat leluhur dan tempat berkumpulnya disebut langgar. Sampai sekarang warga Betawi umumnya menyebut mushala dengan langgar. Sebagian besar masjid tua yang masih berdiri sekarang ini, seperti diuraikan Heuken, dulunya adalah langgar. Menelusuri awal penyebaran Islam di Betawi dan sekitarnya (1418-1527), Ridwan menyebutkan sejumlah tokoh penyebarnya, seperti Syekh Quro, Kean Santang, Pangeran Syarif Lubang Buaya, Pangeran Papak, Dato Tanjung Kait, Kumpo Datuk Depok, Dato Tonggara, Dato Ibrahim Condet, dan Dato Biru Rawabangke. .. .. .. Pada awalnya penyebaran Islam di Jakarta mendapat tantangan keras, terutama dari bangsawan Pajajaran dan para resi. Menurut naskah kuno Carios Parahiyangan, penyebaran Islam di bumi Nusa Kalapa (sebutan Jakarta ketika itu) diwarnai dengan 15 peperangan. Peperangan di pihak Islam dipimpin oleh dato-dato, dan di pihak agama lokal, agama Buwun dan Sunda Wiwitan, dipimpin oleh Prabu Surawisesa, yang bertahta sejak 1521, yang dibantu para resi. Bentuk perlawanan para resi terhadap Islam ketika itu adalah fisik — melalui peperangan, atau mengadu ilmu. Karena itulah saat itu penyebar Islam umumnya memiliki ‘ilmu’ yang dinamakan elmu penemu jampe pemake. Datodato umumnya menganut tarekat. Karena itulah banyak resi yang akhirnya takluk dan masuk Islam. Ridwan mencontohkan resi Balung Tunggal, yang dimakamkan di Bale Kambang (Condet, Kramatjati, Jakarta Timur). Prabu Surawisesa sendiri akhirnya masuk Islam dan menikah dengan Kiranawati. Kiranawati wafat tahun 1579, dimakamkan di Ratu Jaya, Depok. Sesudah masuk Islam, Surawisesa dikenal sebagai Sanghyang. Ia dimakamkan di Sodong, di luar kompleks Jatinegara Kaum. Ajaran tarekat dato-dato kemudian menjadi ‘isi’ aliran maen pukulan syahbandar yang dibangun oleh Wa Item. Wa Item adalah syahbandar pelabuhan Sunda Kalapa yang tewas ketika terjadi penyerbuan oleh pasukan luar yang dipimpin Falatehan (1527). Selain itu juga ada perlawanan intelektual yang berbasis di Desa Pager Resi Cibinong, dipimpin Buyut Nyai Dawit yang menulis syair perlawanan berjudul Sanghyang Sikshakanda Ng Kareyan (1518). Sementara, di Lemah Abang, Kabupaten Bekasi, terdapat seorang resi yang melakukan perlawanan terhadap Islam melalui ajaran-ajarannya yang menyimpang. Resi ini menyebut dirinya sebagai Syekh Lemah Abang, atau Syekh Siti Jenar. Tantangan yang demikian berat mendorong tumbuhnya tradisi intelektual Betawi. Seperti dituturkan Ridwan Saidi, intelektualitas Islam yang bersinar di masyarakat Betawi bermula pada abad ke- 19 dengan tokoh-tokoh Guru Safiyan atau Guru Cit, pelanjut kakeknya yang mendirikan Langgar Tinggi di Pecenongan, Jakarta Pusat. Pada pertengahan abad ke-19 hingga abad ke-20 terdapat sejumlah sentra intelektual Islam di Betawi. Seperti sentra Pekojan, Jakarta Barat, yang banyak menghasilkan intelektual Islam. Di sini lahir Syekh Djuned Al-Betawi yang kemudian menjadi mukimin di Mekah. Di sini juga lahir Habib Usman Bin Yahya, yang mengarang puluhan kitab dan pernah menjadi mufti Betawi. Kemudian, sentra Mester (Jatinegara), dengan tokoh Guru Mujitaba, yang mempunyai istri di Bukit Duri. Karena itulah ia secara teratur pulang ke Betawi. Guru Mujitaba selalu membawa kitab-kitab terbitan Timur Tengah bila ke Betawi. Dia punya hubungan dengan Guru Marzuki Cipinang, yang melahirkan sejumlah ulama terkemuka, seperti KH Nur Ali, KH Abdullah Syafi’ie, dan KH Tohir Rohili. Juga, sentra Tanah Abang, yang dipimpin oleh Al-Misri. Salah seorang cucunya adalah Habib Usman, yang mendirikan percetakan 1900. Sebelumnya, Habib Usman hanya menempelkan lembar demi lembar tulisannya pada dinding Masjid Petamburan. Lembaran itu setiap hari digantinya sehingga selesai sebuah karangan. Jamaah membacanya secara bergiliran di masjid tersebut sambil berdiri.
VERSI KEDUA

Masjid yang diyakini merupakan bagian sejarah Islam di Jakarta ini memang menjadi tujuan sebagian besar umat Islam. Masjid Al Mukaromah di Kampung Bandan yang terletak di tepi Jalan Lodan Raya, Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, dianggap sebagai masjid keramat yang menyimpan jejak sejarah penyebaran Islam di Jakarta. Di kompleks masjid ini terdapat tiga makam yang dikeramatkan, yaitu makam Habib Mohammad bin Umar Al-Qudsi (wafat pada 23 Muharram 1118 H), Habib Ali bin Abdurrahman Ba’ Alwi (wafat 15 Ramadhan 1122 H), dan Habib Abdurahman bin Alwi Asy-Syathri (wafat 18 Muharam 1326 H), pendiri masjid itu. Masjid Kampung Bandan yang tampak sederhana itu, masih menyimpan peninggalan masa lampau. Walaupun sudah banyak bagian masjid ini yang dipugar, namun suasana abad ke -18 masih terasa, terutama dari bagian-bagian bangunan yang masih ada dari masjid tersebut. Di antaranya adalah sejumlah tiang masjid itu yang masih asli berwarna hijau, agak kontras dengan warna dinding masjid yang putih. Barangkali inilah ciri khas masjid yang sudah berusia kurang lebih 300 tahun itu. Di sekeliling area masjid terdapat banyak pepohonan, sehingga lingkungan masjid yang berdiri di lahan seluas sekitar 700 meter persegi itu terasa sejuk. Sayang, masjid ini tidak memiliki lahan parkir yang luas, sehingga jemaah masjid itu harus parkir di tepi Jalan Lodan. Masjid Kampung Bandan didirikan oleh Habib Abdurrahman Bin Alwi Asy-Syathri pada tahun 1789. Menurut pengurus masjid, Habib Alwi Bin Ali Asy-Syathri, yang merupakan keturunan keempat Habib Abdurrahman Bin Alwi Asy-Syathri, berdasarkan cerita turun temurun, Habib Abdurrahman mendapatkan karomah atau pencerahan dari Allah untuk merawat dua makam wali penyebar agama Islam di Jawa yang berada di daerah tersebut. Kedua makam tersebut diyakini sebagai makam Habib Mohammad Bin Umar Al Qudsi dan makam Habib Ali Bin Abdurrahman Ba’Alwi yang merupakan salah satu khalifah penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Habib Abdurrahman membuat sebuah tempat persinggahan untuk berteduh dan sembahyang bagi para peziarah di samping makam tersebut. Namun karena semakin banyak para peziarah yang datang ke kuburan kedua wali tersebut, akhirnya Habib Abdurrahman mendirikan sebuah surau. “Ketika dibangun surau, di daerah sini masih berupa rawa dan setengah hutan, karena letaknya sudah berada di pesisir pantai,” ujar Habib Alwi. Setelah Habib Abdurrahman Bin Alwi Asy-Syathri wafat, kepengurusan surau tersebut diserahkan kepada anaknya, Habib Alwi Asy-Sathri. Jenazah Habib Abdurrahman dikuburkan di samping kedua makam yang berada di kompleks surau tersebut. Pada tahun 1947, surau tersebut diubah oleh Habib Alwi Asy Syathri menjadi bangunan masjid dengan 12 tiang penopang. Karena di Kampung Bandan saat itu belum ada tempat ibadah untuk masyarakat. Pada saat itu pula nama masjid yang sudah dikenal dengan sebutan Masjid K(e)ramat Kampung Bandan bernama resmi Masjid Jami Al Mukaromah. Tapi hingga saat ini masyarakat dan para peziarah lebih mengenal masjid ini dengan nama Masjid Kramat Kampung Bandan. Pada tahun 1972, Dinas Museum Purbakala Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memasukkan Masjid Kramat Kampung Bandan menjadi salah satu cagar budaya yang bangunannya harus dilindungi. Dan sejak saat itu, masjid tersebut setiap satu dasawarsa dipugar agar tetap terjaga kelestariannya. Seiring dengan semakin dikenal dan banyaknya pengunjung Masjid Kramat Kampung Bandan, pengurus masjid itu menambah ruangan masjid utama tersebut. Penambahan semula dilakukan ke bagian depan masjid, lalu ke sisi kiri dan kanan dan terakhir penambahan di bagian belakang masjid. Menurut Habib Alwi Bin Ali Asy-Sathri, saat ini masjid utama sudah dikelilingi oleh bangunan tambahan masjid yang bisa menampung jemaah kurang lebih 700 orang. “Masjid ini sudah tiga kali dipugar, yang pertama pada tahun 1979-1980, yang kedua pada tahun 1989-1990, dan yang terakhir pada tahun 2000-2001, sementara dananya berasal dari pemerintah,”ujarnya. Namun, kata Habib Alwi, pemerintah hanya memberikan dana untuk renovasi sepuluh tahun sekali, sedangkan untuk dana pemeliharaan rutin, pengurus masjid mendapatkannya dari infak shalat Jumat dan para peziarah. Lebih lanjut, kata Habib Alwi, Masjid Al Mukaromah biasanya akan ramai didatangi para peziarah pada bulan-bulan tertentu semisal bulan Maulid dan bulan Sya’ban, menjelang bulan puasa. Sementara peziarah yang datang berasal dari berbagai tempat di Indonesia semisal Jabodetabek, Jawa Timur, Madura, Kalimantan Selatan, dan lain-lain. “Tapi memang jumlah peziarah akan membeludak pada bulan Sya’ban, menjelang bulan puasa, sedangkan pada bulan puasa, masjid ini sepi dari para peziarah, tapi banyak dikunjungi oleh warga sekitar untuk melakukan shalat tarawih,”tuturnya. Kata Habib Alwi, sebagian peziarah mengaku terlebih dahulu mendapat mimpi. “Banyak peziarah yang bilang ke saya sebelum datang ke masjid ini, mereka terlebih dahulu mendapat mimpi agar datang ke sini. Dalam mimpi tersebut juga digambarkan secara detail bagaimana bentuk masjid serta ciri-cirinya,” ujarnya. Kata Alwi, sebagian peziarah yang datang kebanyakan melakukan zikir dan ibadah di masjid tersebut. Selain itu ada juga peziarah yang mengharapkan mendapatkan benda-benda setelah berziarah ke masjid tersebut. “Keperluan peziarah yang datang ke sini memang macam-macam. Biasanya apa yang dicari oleh para peziarah, mereka dapatkan, semisal meginginkan batu atau angkin,”ujarnya. Menurut Habib Alwi, keberadaan masjid keramat itu ternyata memberikan rezeki bagi warga sekitarnya. Karena banyaknya para peziarah yang datang, warga bisa kecipratan rezeki dari berdagang berbagai cenderamata, minyak wangi, menjadi tukang parkir atau menjaga alas kaki para peziarah. Masjid ini juga memiliki cerita aneh di kalangan masyarakat. Hal itu terjadi pada tahun 1994, ketika dilakukan pembangunan jalan tol layang. Menurut Habib Alwi, pada saat itu, rencananya sebagian halaman masjid akan digusur untuk jalan layang tersebut. Dan jika terlaksana, letak masjid tersebut nantinya akan berada di bawah jalan layang. Namun, pada saat pembangunan tiang penyangga jalan tersebut patah dan ambruk. Pembangunan akhirnya dilakukan dengan cara manual, tapi tetap saja tiang penyangga tidak bisa berdiri kokoh. Keajaiban lain juga terjadi, pada saat itu, para pekerja terus mengejar pengerjaan jalan tol yang dirasakan sudah terlambat tersebut dengan tetap bekerja pada hari Jumat, tanpa menghiraukan imbauan pengurus masjid untuk tidak melakukan aktivitas pembangunan pada hari tersebut. Akhirnya, semua beton dan tiang penyangga yang sedang dikerjakan hancur dan menewaskan banyak pekerjanya. “Menurut pimpro pembangunan jalan tol ini, mereka tidak melihat ada masjid ini pada saat melakukan penelitian dan pemotretan dari udara. Baru setelah kejadian ambruknya tiang penyangga yang menewaskan beberapa pekerja, pimpro tersebut datang ke masjid. Mereka baru mengetahui kalau masjid ini keramat dan akhirnya sepakat untuk menggeser area jalan tol ke sebelah selatan,” ujar Habib Alwi sambil mengenang keajaiban terbesar yang dapat disaksikan banyak orang pada saat itu. (dokumen jakut/iast)
kesimpulan
1. Betawi bukan suku, melainkan nama sebuah tempat di sepanjang aliran Sungai Ciliwung 2. Betawi bukan berasal dari Batavia (Belanda) melainkan dari Al-Batawiyu (البتاوى ) (arabic) 3. Betawi berarti “Kampung Bata”, yaitu Batu Tanah 3. Betawi berarti Tanah yang mengeras seperti Batu 4. Betawi merupakan daerah Kerajaan Sunda 5.Suku Betawi bukanlah Suku etnis baru sama seperti Suku badui yang berdiri sendiri tidaklah mungkin dari campuran berbagai etnis atau budak karena penyebaran Islam di Sunda Kelapa lebih dahulu datang daripada bangsa Belanda 1.Suku Betawi sangat menghormati keturunan nabi Muhammad yang disebut dengan habib9penyebar agama isla di Sunda Kelapa(Habib Mohammad bin Umar Al-Qudsi (wafat pada 23 Muharram 1118 H), Habib Ali bin Abdurrahman Ba’ Alwi (wafat 15 Ramadhan 1122 H), dan Habib Abdurahman bin Alwi Asy-Syathri (wafat 18 Muharam 1326 H yang mana keduanya adalah penyebar agama Islam Di Sunda Kelapa bukti; a.Banyak di rumah orang Betawi terpasang foto para ulama keturunan arab b.Logat bahasa Suku Betawi tidak sama dengan etnis yang disebutkan oleh wikipedia
YANG PENTING KITE BERSATU DALAM NKRI
MobPartner Counter|
Online Users